Sketsa


Oleh: Ahmad Muhammad Qomar
Ada belasan lembar sketsa wajah yang kutempel di dinding kamarku. Sebagian tampak usang dengan warna kuning di tepi lembar putihnya, sebagian lagi masih tampak baru karena kubuat beberapa hari yang lalu. Meskipun begitu, kumpulan sketsa itu masih akan terus aku perbanyak dan terus akan aku buat dengan satu model wajah padanya.
Terkadang aku malu hanya untuk sekedar memandanginya. Terkadang aku sedih melihat senyum wajah di sketsa itu. Terkadang pula aku dapat merasa bahwa wajah itu hidup dan menemaniku bercakap-cakap sepanjang hari meski di kamar hanya ada aku seorang diri. Kumpulan sketsa itu seakan menjadi salah satu chapter hidupku yang dulu pernah aku anggap hilang dan tidak akan pernah aku dapatkan. Masa di mana seorang remaja mendambakan perhatian dan kasih sayang dari seseorang untuk menemani waktu sepi.
Tidak banyak orang yang bisa seperti aku. Lebih senang termenung sendiri. Memandangi berulang kali sketsa-sketsa buatanku sendiri. Melabuhkan rinduku pada pemilik paras nan cantik itu meski hanya lewat lembarannya yang bisu dipeluk dinding putih pucat pasi. Bila rasa rindu kian menyesakkan dadaku dan tidak bisa sekedar kulampiaskan pada sketsa-sketsa itu, aku pasti akan segera meraih axioo-ku yang teronggok di meja belajar. Di sana aku akan temukan salah satu folder tersembunyi yang berisi ratusan gambar foto asli pemilik wajah di sketsaku. Lalu tidak berselang lama, tanganku akan menyetubuhi beragam alat tulis yang aku gunakan untuk membuat sketsa baru. Sketsa wajah yang hanya dimiliki satu gadis yang entah bagaimana kabarnya hari ini.
Kertas, pensil, penghapus, mistar, dan kawan-kawannya pun tak jarang mengejekku yang berbalut peluh kala menuntaskan sketsaku.
“Aku kesal kau hanya bernafsu menggambar sketsa wajah yang itu-itu terus,” cibir kertas.
“Tubuhku terlalu renta melayani keserakahan tanganmu menggambar sketsa wajah gadis pujaanmu,” keluh pensil.
“Sudahlah! Sebentar lagi rindumu pasti akan pupus, seperti tubuhku yang telah aus kau gunakan menghapus,” erang penghapus.
Lalu kawan-kawan kertas, pensil, dan penghapus bersorak-sorak mendukung tuntutan mereka.
Jika saja telingaku masih dapat mendengarkan tuntuntan mereka itu, suara mereka menggema di seantero kamarku. Jika saja mataku masih dapat melihat betapa tersiksanya mereka itu, pedih melihat mereka menjadi korban pelampiasan hasratku. Jika saja jemariku masih peka pada tidak berdayanya mereka dan letihnya tubuhku, aku berpikir lebih baik mati daripada melanjutkan menggambar sketsa baru itu. 
Ironinya, tubuhku malah mengabaikan semua itu. Tubuhku bergerak di luar kendali. Bahkan si HATI yang seringkali menurut pada permintaanku berbalik mengkhianatiku dan memilih menikmati saat di mana dapat memoles sisi hitam dan putih pada bagian sketsa itu. Tatkala sketsa itu pun jadi, tubuhku langsung ambruk dan runtuh sembari merengkuh sketsa itu dengan seulas senyum di bibirku. Senyum yang terkumpul oleh serpihan rasa lelah akan kerinduan.
Kerinduan ini mungkin hanya akan terus aku nikmati sendiri, atau ditemani oleh lembaran sketsa-sketsa itu. Kerinduan ini hanya akan aku pendam sendiri, atau kulampiskan pada sketsa-sketsa itu. Kerinduan ini telah lama terpatri di sanubari dan selamanya akan tertanam di sana, atau kuusangkan dia pada sang waktu bersama sketsa-sketsa itu.
Karena kerinduan ini tidak hanya aku yang miliki. Di luar sana, juga ada banyak yang merasakan rindu pada gadis pemilik sketsa wajah itu namun lebih mampu mengungkapkan padanya. Tidak memilih menikmati dicumbui oleh rasa rindu dan terpasung dalam hasrat ingin memiliki. Dan dari sketsa-sketsa itu aku belajar untuk menghargai kerinduan, untuk tidak sekedar diungkapkan lewat kata-kata tapi diejawantahkan lewat prestise yang benar-benar mendeskripsikan kedalaman rindu pada sosok itu.
Malu… Malu aku! Akhirnya aku harus memilih menyerahkan salah satu sketsa terbaikku pada pemilih wajah di sketsa itu. Malu karena hanya sketsa itu yang dapat aku berikan pada momen terbaik di hidupnya. Malu karena keindahan di sketsa itu bak setetes air di samudra luas terhadap paras aslinya. Malu karena dengan sengaja kulampirkan catatan ini padanya dalam sebungkus kertas kado biru dengan 17 ornamen kepingan simbol HATI yang menunjukkan jumlah usianya saat ini.
Yang berarti kerinduanku hanyalah dusta; kerinduanku hanyalah sebuah sketsa; kerinduanku akhirnya terungkapkan juga. Mungkin setelah ini aku akan berhenti menggambar sketsa wajahnya. Menyayat kulit tanganku, membaui darah amis yang keluar daripadanya, menyeruputnya sedikit-sedikit, berulang kali, hingga lumpuh dan tak dapat menggambar sketsa lagi.
Agar aku dapat memilih melampiaskan kerinduan yang tidak akan mati ini dengan cara lain. Cara yang pasti tidak akan diketahui oleh gadis pemilik sketsaku.
* Penulis adalah mahasiswa jurusan Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*