Kenangan Itu

Oleh: Mutahharah Hasan
Seperti hari-hari yang lalu. Setiap langkah selalu meninggalkan jejaknya. Namun kebersamaan kita ini, aku tidak ingin menjelma bagai angin. Ada, namun seperti tidak nyata. Entah kenangan itu telah lapuk, bahkan benar-benar tidak lagi berwujud.
Aku bukan tidak mau melakukan segalanya untuknya, bukan juga karena malu tidak ada usaha sedikit pun untuk membuktikan cintaku. Tapi itulah aku. Dayaku hanya cukup seperti itu. Akulah seorang yang sangat lemah, menuruti setiap kemauannya semampuku. Tidak pernah lebih. Jadi aku memang tidak pernah lebih buatnya, lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya, lebih indah, dan lebih baik untuknya. Sungguh, itulah diriku sebenarnya.
Usaha untuk mencintainya dengan sederhana, dengan mimpi-mimpi yang indah, berlimpah harapan serta angan-angan bersamanya, namun dia masih saja mencampakkanku.
Sesekali dia datang untuk memberiku sekeping harapan palsu yang akhirnya akan mendorongku ke jurang yang sama. Jurang tempat aku terperosok sebagaimana hari kemarin, hari ini dan juga mungkin hari esok. Kembali aku pasti akan terjatuh lagi ke dalam sana. 
Aku selalu menjerit dalam hati, kenapa dia tidak melupakanku saja dan jangan pernah kembali lagi ke hidupku.
Dia mungkin tidak tahu, semakin dia mendekat semakin hanya menimbulkan kepedihan di hatiku. Setiap pertemuan itu tidak pernah dapat aku nikmati manisnya. Aku hanya ingin dia menjauh saja dan menganggap aku tidak pernah ada. 
Aku justru pernah berharap dia lebih baik mencintai sekian gadis lain dan jangan menoleh lagi kepadaku, karena aku sekarang tidak lagi berada di belakangnya, mengikuti apa inginnya. Tapi kini aku ada di hadapannya, menunggu hingga dia sadar bahwa seribu gadis yang mencintainya tidaklah cukup dibandingkan dengan besarnya cintaku padanya. 
Sebuah ironi bila aku justru menginginkan dia tetap melangkah, meraih cinta dan impiannya sendiri. Meskipun begitu, sikapnya padaku selama ini tidak akan merubah kasih sayang yang sudah sekian lama berakar dalam diriku
Tidak hanya itu, aku berjanji, siapapun kelak yang meminangku, tetaplah si pemilik kenangan itulah cintaku hingga di akhirat. Doaku pada Tuhan agar menyatukan kita lagi. Itu harapanku bila memang kita tidak mungkin bersatu lagi. 
Sekarang biarkan aku berharap, dan menikmati setiap keping bait harapan itu. Karena jika damai dan cinta tidak ada lagi di genggamku, biarlah setitik harapan yang dia sisakan untukku, menghidupkan cinta dan damai dalam dahaga kasih sayangku.
Saat ini aku menunggu dia kembali menawarkan secawan kebahagiaan untukku. Setidaknya untuk mencerahkan kelamnya hatiku, walaupun nanti aku akan terjatuh lagi dalam jurang itu, aku tidak peduli.
*Penulis adalah mantan bendahara umum UKM LIMA Washilah periode 2011-2012