Media Massa Dalam Pusaran Politik

Ilustrasi
Oleh Ruslan

Siapa yang menguasai informasi maka dialah yang berkuasa. Begitulah anekdot yang berkembang di tengah masyarakat. media massa merupakan pilar ke-empat dari negara yang berbentuk demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Proses demokratisasi tidak bisa berjalan sesuai dengan harapan masyarakat tanpa adanya kebebasan pers, karena media massa-lah kita dapat mengetahui informasi tentang persoalan sosial politik, hukum, ekonomi, teknologi dan lain sebagainya. Setiap insan manusia pasti membutuhkan informasi yang mudah di akses dan akurat, entah itu mengenai kejadian-kejadian ada di belahan dunia ini. Setiap hari masyarakat di kita suguhkan dengan berita-berita entah itu berita kriminal (pembunuhan, perampokan, tawuran pelajar dan mahasiswa dan lain sebagainya) sampai dengan gosip eyang subur yang santer mempunyai istri lebih dari satu. Dan berita lainnya yang tak kalah menarik misalnya potret kehidupan artis yang glamour, anak jalanan, koruptor mafia pajak dll. 

Artinya kehidupan kita sehari-hari tak pernah bisa terlepas dari peranan media massa. dikatakan sebagai masyarakat modern ketika informasi mudah di dapatkan (akses) dengan cepat menggunakan peralatan teknologi tinggi dan minat membaca masyarakat bertaraf tinggi. Jika kita membandingkan indonesia dengan negara tetangga misalnya cina, jepang, india, malaysia dan lain sebagainya, minat membaca masyarakat lebih tinggi di bandingkan dengan indonesia. Indonesia mendapat urutan paling terakhir untuk minat membaca. Kondisi ini terbukti pada masyarakat kita yang sebagian besar jarang memiliki koleksi buku-buku bacaan dirumahnya, begitupun siswa maupun mahasiswa, kalaupun buku-bukunya ada di rak atau lemari buku itu hanyalah buku-buku panduan atau modul yang di suruh (paksa) untuk di beli sebagai buku wajib dan terkadang tak pernah dibuka sama sekali. Sangat ironis memang hidup ditengah-tengah masyarakat modern yang kehilangan esensinya sebagai manusia, seharusnya budaya membaca dijadikan sebagai pionir utama masyarakat untuk membangun indonesia lebih maju dan berperadaban. Jangan heran kondisi negara kita di beberapa dekade terakhir ini rasanya tak ada bedanya dengan indonesia di masa tempo dulu. Tak ada perubahan yang berarti pasca reformasi terkecuali perubahan artifisial semata.
Diawal tahun 2013 sampai sekarang, media massa menampilkan berbagai macam berita entah terkait dengan konflik pasca pilgub, kelangkaan solar, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak, anomali ujian nasional, aksi demonstrasi anarkis dan sejumlah berita lainnya. Informasi seperti ini akan kita dapatkan melalui siaran-siaran media. media massa menampilkan dan menayangkannya secara langsung sehingga masyarakat pada umumnya dapat mengetahui perkembangan yang terjadi. Apakah yang ditampilkan oleh media massa (tv) semata-mata objektif dan bisa memberikan pendidikan politik bagi masyarakat pada umunya. Dengan berbagai tawaran tayangan dan iklan kepada pemirsa, apakah sudah melalui tahapan ferivikasi kelayakan atau tidak.
Kalau kita perhatikan perhelatan perpolitika di indonesia, berbagai aktor politik baik nasional maupun lokal menampilkan perilaku dan tindakan yang yang tidak baik, maraknya politisi loncat sana loncat sini masuk partai ini dan partai itu hanya mengejar kursi kekuasaan semata. Jika parpol tidak menjadikan elit tersebut sebagai calon legislatif maupun eksekutif maka tak tanggung-tanggung elit mencari partai lain yang bisa mencalonkannya sebagai salah satu kontestan. Entah itu partai yang berseberangan dengan ideologi awalnya, yang penting hasrat politik merebut kekuasaan melalui pemilu tercapai, walau harus mengeluarkan anggaran puluhan juta bahkan ratusan juta.
Pentas demokrasi akan segera di gelar oleh masyarakat indonesia di tahun 2014, dimana masyarakat akan memilih presiden dan wakil presiden yang akan menahkodai indonesia selama satu periode (5 tahun). dan partai politik pun berebutan untuk mendapatkan simpatisan dari masyarakat. Dengan menggunakan berbagai modus bantuan baik di lembaga agama maupun lembaga sosial yang membutuhkan dana. Tak jarang kita melihat para calon mendatangi kediaman masyarakat lapis bawah dengan mengiming-imingkan janji kesejahteraan, pendidikan gratis, kesehatan gratis, perbaikan jalan dan reformasi tata kelolah pemerintahan yang baik dan bersih (good govermant and good governance) dan modal usaha lainnya. Pentas demokrasi kita terasa masih dangkal dan memerlukan pembenahan disana sini karena ulah para elit politik yang tidak bertanggung jawab. Apalagi di tambah dengan pola demokrasi prosedural yang hanya menghasilkan biaya yang banyak untuk perhelatan pesta demokrsi dan itu akan menghabiskan APBN negara yang cukup banyak. seharusnya anggaran yang di alokasikan untuk pemilu bisa di distribusikan kepada masyarakat miskin demi kesejahteraan bukan dibuang secara cuma-cuma.
Disinilah peran media memberikan muatan berita yang mencerahkan masyarakat. Berita yang berkualitas memberikan pemahaman yang baik bagi kelangsungan perpolitika indonesia, bukan hanya menampilkan permukaannya saja apa yang terjadi melainkan asal muasal kejadian se-objektif mungkin demi terciptanya pendidikan politik dan kesadaran colektif. Jika media beroriantasi pragmatisme maka dikhawatirkan proses demokratisasi tidak akan berjalan dengan baik, malahan sebaliknya akan membawa petaka. Semoga bangsa dan negara kita menjadi lebih baik dari sebelumnya oleh karena media yang berkualitas dan bertanggung jawab.
*penulis Adalah mahasiswa Semester IV Jurusan ilmu Politik,
fakultas Usluhudddin, Filsafat, dan sosiologi.

Comments

comments