ALLAH PUNYA RAHASIA



         

Mahasiswa saintek

Setelah shalat subuh hari ini saya langsung berangkat ke rumah sakit. Semalam suster menelpon katanya ada pasien balita yang selalu merintih karena tak kuat menahan sakit, jadi kemungkinan dia akan operasi. Profesi menjadi seorang dokter adalah impianku sejak kecil. Sekarang telah tercapai dan setiap kali aku berhasil menyelamatkan nyawa seorang pasien rasanya hati ini lega. Namun tak jarang juga ada keluarga pasien yang selalu menyalahkan kami saat nyawa pasien tak berhasil diselamatkan.

          “dokter Nina, pasien ada di ruangan melati 05, dari tadi dia menangis dok mungkin karena pasien mencari orang tuanya.” Kata suster sambil menyerahkan laporan diagnosa pasien. “oh, namanya Alin, memang orang tuanya kemana sus?”. “katanya pulang ke rumah untuk mengambil mainan pasien dok”.
          Kasihan juga melihat balita yang sakit seorang diri di ruang perawatan. Orang tuanya tegaaaaaaan banget kataku dalam hati. “tenang sayang, jangan nangis yah, ntar lagi mama papanya pasti datang bawa mainan” bujukku pada Alin. Sontak Alin memelukku. Ya Allah matanya mengingatkanku pada seseorang, gumamku dalam hati.
Aku teringat pada mantan kekasihku lima tahun lalu namanya Anton. Kami telah bertunangan sejak ulang tahunku yang ke-20. Namun saat aku berangkat study banding ke Singapura, cobaan datang melanda. Tunanganku menghamili wanita lain yang ternyata sepupunya sendiri. Alangkah kagetnya hati ini, sepulang dari Singapura ternyata Anton telah menikah dan istrinya telah hamil lima bulan. Keluargaku selalu menghiburku dan tak hentinya menyemangati. Mereka tidak mau melihatku down agar aku bisa jadi dokter secepatnya.
***********************
          Sesaat kuterlarut dalam kisah masa laluku dengan Anton. Ketukan suster di ruanganku membuatku kaget. “dok, orang tua pasien tadi mau ketemu sama dokter. Katanya mereka mau membicarakan keadaan Alin”, kata suster. “iya sus, suruh mereka masuk”, kataku sambil membereskan meja kerjaku.
          “selamat pagi dok”,
          “selamat pagi silahkan masuk”, kataku sambil membereskan meja sebelum berbalik melihat wajah mereka. Hampir saja aku menjatuhkan bingkai foto yang tengah berada dalam genggamanku. “astaghfirullahal adzim” terdengar jelas suaraku oleh mereka. Spontan aku mengucapkannya karena aku bertemu dengan orang yang baru saja hadir di pikiranku beberapa menit lalu. Ternyata ayah Alin adalah Anton, mantan kekasihku. Bagaimana bisa semua jadi seperti ini? Bagaimana bisa aku bertemu mereka kembali? Dan 1001 pertanyaan bagaimana hadir di pikiranku.
          Rona wajah yang sama terlihat jelas di wajah Anton dan istrinya, Sarah. Namun aku berusaha untuk menyesuaikan keadaan. “anak bapak harus segera dioperasi karena kalau tidak ditangani dari sekarang, ususnya akan membengkak” kataku. “mohon dokter selamatkan anak kami. Andai bisa, lebih baik aku yang menggantikan dia terbaring di rumah sakit” kata sarah sambil menangis dan hanyut dalam pelukan Anton yang berusaha menenangkannya. Sungguh pemandangan yang membuat hatiku teriris. Sarah yang dulunya sering memanggilku dengan sebutan calon sepupu kini hanya memanggilku dokter, seakan kami semua tidak pernah kenal dan bertemu sebelumnya. Aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku masih mencintai Anton, meski perlahan aku bisa melupakan semua kenangan bersamanya selama tujuh tahun, namun sampai sekarang aku masih belum bisa membuka hati untuk laki-laki lain.
          Aku berusaha menenangkan perasaan mereka dan berjanji bahwa operasi akan berhasil dan Alin bisa kembali sehat seperti semula. Alin yang menderita pembengkakan usus, setengah jam yang lalu memelukku sambil menangis. Aku tidak menyangka bahwa anak kecil yang memelukku adalah anak yang telah menghancurkan pertunanganku dengan kekasihku dulu. Namun dengan segera aku menepis pikiran itu, Alin tak berdosa dan dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
          **********************
          Setelah shalat isya aku berdoa kepada Allah agar besok operasi Alin berjalan lancer dan berhasil. Aku juga berdoa agar Allah memberiku kekuatan untuk melihat pemandangan yang membuat hatiku teriris. Sambil meneguk teh hangat buatan mamaku, aku menatap keluar jendela. “Bintang-bintang selalu bersinar, namun kita hanya melihatnya saat malam hari. Itu karena matahari yang terlalu menyilaukan sehingga kita tidak dapat melihat bintang lain yang lebih indah. Yah mungkin begitulah, selama ini di hatiku hanya Anton, pesona Anton membuatku tidak lagi dapat melihat laki-laki lain. Lama sekali aku hanyut dalam khayalan, andai aku hanya tercipta sebagai seorang bidadari yang hidup di surga” kataku dalam hati.
          Dering telepon membuatku serasa terbangun dari khayalan. Ternyata panggilan dari Dokter Edo, laki-laki yang mengejar cintaku hampir setahun namun aku belum bisa mencintainya. “malam Nin, saya dengar besok kamu ada operasi ya?” tanya Edo. “iya” jawabku singkat. “smoga berjalan lancar dan sukses ya Nin”. “iya, makasih ”. “kok kamu cuek gitu Nin? Sampai kapan kamu akan sedingin ini padaku? Apa aku belum bisa menyentuh hatimu?”. Pertanyaan Edo seakan membuatku bersalah, ya Allah apakah sikapku itu menyakitinya? Apa aku salah. Aku hanya menjawab kalau aku sudah ngantuk dan mau istirahat untuk operasi besok, setelah itu telepon aku tutup. Antara Anton dan Edo, dua orang laki-laki yang ada dalam cerita cintaku. Ah! aku tidak mau terlalu larut dalam urusan cinta lebih baik aku tidur supaya besok operasi lancar.
*********************
          “Selamatkan anak saya dok” pinta Sarah sambil memegang tanganku. Aku membalas dan menggenggam tangannya, isyarat agar bertawakkal pada Allah. Kulihat Anton pun tersenyum padaku dan meminta agar aku berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan anaknya. Bukan soal Alin, Anton ataupun Sarah. Tapi ini adalah hubungan antara dokter, pasien dan keluarganya. Kubaca basmalah dan operasipun kulakukan. Alhamdulillah daging yang membuat usus Alin kelihatan bengkak bisa terangkat. Operasi berjalan dengan lancar meski sebelumnya tubuh Alin bergerak tiba-tiba bagai orang kaget mungkin karena dosis obat bius yang kurang atau sarafnya yang bergerak reflex.
          Operasi berjalan tiga jam. Ternyata yang menunggu di luar bukan hanya Anton dan sarah, namun ada orang tua mereka. Serentak mereka mendekat padaku dan menanyakan keadaan Alin. Jawabanku membuat rona wajah mereka yang awalnya khawatir berubah menjadi lega. Rasanya aneh bertemu dengan ibu Anton, sebelumnya aku sangat dekat dengan beliau tapi sekarang terasa ada jarak. Tak tahan melihat keluarga itu, aku langsung bergegas masuk ke ruanganku. Tak terasa air mataku berlinang rasanya sedih melihat mereka. Mengapa keluarga Anton seakan tidak mengenalku? Mengapa mereka tidak menanyakan keadaanku? Ya Allah, mengapa sampai sekarang aku masih mencintai Anton? Aku ingin berhenti mengharapkannya karena sudah jelas dia punya istri dan anak. Ada apa dengan diriku ini?.
          Kedatangan Anton ke ruanganku membuatku kaget dan langsung menghapus air mataku. “anak anda mungkin akan siuman dua hari ke depan” kataku pada Anton. “maaf aku ke sini untuk berterima kasih kepada anda dok. Terima kasih telah menyelamatkan nyawa anak saya” kata Anton. “oh itu sudah menjadi kewajiban saya, sebagai……..” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku tiba-tiba Sarah masuk ke ruanganku dengan ekspresi yang sepertinya cemburu, terbukti dia bicara dengan nada keras. “ayah, ayo kita ke mall beli kado ulang tahun untuk Alin kan ultahnya besok” kata Sarah. “nanti aja ma, Alin kan belum sadar” bujuk Anton. “pokoknya sekarang kita pergi, saya tidak mau tahu” paksa Sarah seraya menarik tangan suaminya. “maaf kalau mau bertengkar jangan di ruangan saya” kataku. Sarah sepertinya tidak peduli dan mereka melangkah dari ruanganku.
*********************
          Lagi-lagi,,, Anton bahkan datang ke rumahku. Aku tahu persis apa yang dia inginkan. “jujur Nin, aku menikahi Sarah karena terpaksa. Sampai sekarang aku masih mencintai kamu. Nin, maukah kamu memaafkanku? Aku bisa saja menceraikan Sarah dan kita kembali seperti dulu.” rayu Anton. Malam itu tak sengaja air mataku mengalir, sepertinya aku berada dalam posisi yang serba salah. Aku masih mencintai Anton namun haruskah aku merebutnya dari Sarah. “ya Allah beri hambamu petunjuk” kataku dalam hati. Anton langsung menghapus air mataku dan memelukku. Kurasakan air matanya membasahi bajuku. “aku masih mencintai kamu Nin, aku ingin kembali padamu”. Aku tidak mampu berkata apa-apa, aku hanyut dalam pelukan Anton, serasa kembali pada keadaan lima tahun lalu.
          Kedatangan Dokter Edo membuatku kaget. Dia melihat Anton memelukku. “maaf, sepertinya aku mengganggu” kata Dokter Edo langsung meninggalkan rumahku. Malam itu aku merasa menjadi wanita terjahat di dunia. Aku melepas tangan Anton dan mengejar Dokter Edo. Aku merasa bersalah padanya dan baru ingat kalau aku yang meminta Dokter Edo datang ke rumah untuk membantuku menyelesaikan penelitianku. Terlambat sudah, Dokter Edo sudah melaju dengan Honda Jazznya. Aku melihat Anton memperhatikan gerak gerikku tadi. “Dia pacar kamu sekarang?” tanya Anton. “iya, memang kenapa? Salah kalau aku juga berhak mendapatkan kebahagiaanku bersama orang lain? Sekarang tinggalkan aku dan pergilah jaga anakmu di Rumah Sakit. Aku sudah bosan melihatmu tiap hari bersama istrimu. Pergi!” Kataku emosi. “Nin, dengar aku” pinta Anton. Aku langsung membanting pintu. Beberapa saat kemudian Anton pergi. Aku mengintip kepergiannnya di balik tirai.
*********************
          “dokter, dokter Edo… Ada yang perlu aku bicarakan” kataku sambil mengikuti jejak dokter Edo yang seakan tidak mempedulikanku. “maaf dokter Nina, sekarang saya lagi sibuk. Bicaranya nanti saja” kata dokter Edo sambil memencet tombol lift. Aku tahu apapun yang kulakukan pasti dokter Edo tidak mau bicara denganku. Aku memutuskan untuk mengurung diri dalam ruanganku, lagi pula hari itu tidak ada pasien yang mesti ditangani dokter. Kepalaku betul-betul pusing. Hingga sore hari aku rasanya tidak ada nafsu makan. Sesampai di rumahpun aku tidak makan meski mamaku memaksa tapi aku bilang masih kenyang.
          Hingga akhirnya aku jatuh sakit. Aku pingsan saat menyiram bunga di taman. Aku tersadar ternyata aku dirawat di rumah sakit tempatku kerja. “Sungguh memalukan kenapa seorang dokter bisa sakit dan dirawat di tempat kerjanya sendiri. Hah, semua ini terasa mencekik leher” kataku dalam hati. “kamu mikirin apa sih sampai dua hari gak makan?” kata dokter Edo sambil memeriksa denyut nadiku. “darimana kamu tahu?” tanyaku.
 “ya dari mama kamulah bawel. Meskipun ada masalah jangan sampai separah ini, kamu kan dokter pasti tahu akibatnya”.
“bukan, sekarang aku bukan dokter. Aku pasien kamu. Hehehe”. Kulihat dokter Edo tersenyum. “aku minta maaf. Malam itu tidak seperti yang kamu pikirkan” kataku.
“aku sudah tahu semuanya.”.
“pasti dari mamaku lagi”.
“kasi tau gak yah” kata dokter Edo bercanda.
*********************
          Kesehatanku kembali pulih dan rasanya ada semangat baru yang kudapatkan. Aku kembali bertemu Anton dan keluarganya di tempat resepsionis, hari itu Alin sudah boleh pulang ke rumah. “ayah aku mau memeluk dokter Nina” rengek Alin pada Anton. “oh boleh kok sayang” kataku sambil membuka tangan dan membiarkan Alin memelukku. Melihat senyuman Alin niatku untuk melupakan Anton dan membuka lembaran baru bersama Edo semakin mantap. Aku dan Edo sepakat untuk memanggil nama masing-masing tanpa diawali kata dokter.
********************* 3 bulan kemudian
          Tiba hari pertunanganku dengan Edo. Semua merasa bahagia dan aku berdoa semoga dialah jodohku. Aku tidak ingin peristiwa 5 tahun lalu terulang kembali. Tepuk tangan dan senyuman para undangan membuat kebahagiaanku terasa kian lengkap.
          Di malam hari setelah pesta pertunangan itu badanku terasa lelah. Saat aku hampir tertidur tiba-tiba ada sms masuk. Aku sempat kesal dan berkata siapa sih yang mengganggu waktu istirahatku? Ternyata isinya
                   Aku tunggu kamu di taman dekat rumahmu
                   Ini soal masa depan hubungan kita
          “Apa ini Edo? dia kan baru pulang” pikirku sambil meraih jaket dan berlari keluar rumah. Betapa kagetnya ternyata sesampai di tangan malah Anton. “hari ini aku sudah resmi bercerai dengan Sarah. Aku ingin kita kembali seperti dulu” bujuk Anton. Tanpa piker panjang lagi tanganku langsung menampar pipinya. “kamu adalah laki-laki terjahat di dunia yang pernah aku temui. Dulu kamu meninggalkanku dan sekarang kamu meninggalkan anak dan istrimu? Dimana hati kamu?” kataku emosi.
          Aku langsung berlari kembali ke rumahku. Dengan air mata yang terasa hangat di pipiku. Aku memang masih mencintainya namun keadaan yang membuatku harus berhenti mencintainya. Dua bulan lagi pernikahanku dengan Edo. terkadang Allah punya rencana yang tak pernah sempat kita tebak. Saat lima tahun lalu aku berpikir bahwa Anton lah jodohku. Sekarang akupun tidak bisa memastikan apa Edo adalah jodohku? Yang bisa kulakukan hanyalah pasrah dan bertawakkal pada Allah.
         

Comments

comments