Tidak Sah, Enam Kertas Suara Dibakar

Laporan| Ahmad M Qomar
Illustrasi
Washilah-Tindak kecurangan dan kekerasan sudah lazim terjadi pada momen-momen pemilihan mahasiswa (pemilma) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Seperti yang terjadi di fakultas Adab dan Humaniora, di mana syarat pemilih adalah mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa sampai hari pemilihan tersebut. Namun, tidak disangka, tim Lembaga Penyelenggara Pemilma (LPP) kecolongan empat hak suara.

 Empat hak suara tersebut diambil oleh mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) yang sebenarnya telah diwisuda beberapa pekan lalu. Menanggapi hal tersebut, Pembantu Rektor (PR) III bidang kemahasiswaan, H. M. Natsir Siola, yang saat itu memantau proses pemilihan meminta tim LPP segera membatalkan hak suara mereka. Sayangnya kertas suara tersebut telah bercampur dengan kertas suara lain di dalam kotak suara.

Setelah meminta pertimbangan pada Pembantu Dekan (PD) III Fak. Adab dan tim LPP fakultas serta disaksikan oleh tim pemantau dan saksi kandidat ketua BEM fakultas maupun universitas, diadakan pengambilan empat kertas suara secara acak oleh PD III dan selanjutnya dibakar tanpa memperlihatkan isi kertas suara.

Pembakaran kertas suara itu sangat disesalkan oleh PD III, H. Muh Dahlan M. “Hal ini harus kami lakukan demi mencegah protes dari pihak-pihak tertentu,” ungkapnya. Sayang, insiden pembakaran tersebut terjadi lagi, mana kala tim LPP mendapati dua kertas suara berlebih dari jumlah yang diterima dari LPP universitas, yakni sebanyak 950 lembar. Sehingga LPP menduga ada pihak tertentu yang memasukkan kertas suara lain dari yang disediakan.

Melalui pengusutan lebih jauh dari salah seorang saksi kandidat BEM U, Ahmad, bahwa tidak ada kertas suara yang berlebih. Kemungkinan sejak awal tim LPP telah salah memperhitungkan jumlah kertas suara yang masuk ke dalam kotak suara. Sehingga dugaan adanya pihak yang memasukkan kertas suara dari luar tidaklah benar dan dua kertas suara yang dibakar sebelumnya sebenarnya tetap sah. Namun, sesuai kesepakatan bersama bahwa keputusan pembakaran kertas suara tersebut diterima tanpa ada protes dari sejumlah saksi yang hadir saat itu.

 Ketua tim LPP Fak. Adab, Arfandi Fani, menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh saksi BEM fakultas maupun universitas bahwa kesalahan tersebut tidaklah disengaja.
“Setidaknya masalah ini bisa terselesaikan dengan baik oleh bantuan teman-teman saksi kandidat BEM U dan BEM F,” ungkapnya.

Comments

comments