Not Impossible?

Karya Nur Samawiyah
Illustrasi
Perkenalkan namaku Danang Ardi Hasto, teman-teman memanggilku Danang. “Aku Adalah Orang asli Purworejo-Jateng, dan sekarang saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Sudirman (UNSOED) yang berada di Purwojerto-Jateng.
Pagi ini aku bangun agak telat di kos-anku sehingga sholat subuh yang seharusnya dilaksanakan pada waktu sebelum fajar terbit kini aku laksanakan setelah fajar terbit, sekalian sholat dhuhanya dilanjutin. kebetulan semingggu kampus libur, jadi aku punya waktu untuk bernafas bebas dalam 7 hari kedepan ini.
 Biasanya saya dan teman-teman yang lain mengisi kegiatan libur dengan mendaki, kebetulan aku adalah ketua dari kelompok petualangan “LION GREEN FOREST” namun setelah diskusi dengan teman-teman, kami rasa waktu seminggu tidak cukup untuk mendaki target yang telah ditentukan.
Dasar banyak setan, habis sholat mata ini masih merem-melek, namun dengan keteguhan hati kuayuhkan kaki menuju kamir mandi, dan
“Byurrr!!!!”BBrrrrrr!!” suara air membuka mata pori-pori kulitku seakan sel tubuhku melotot dengan pelototan seribu wattt. Badan kembali segar, otot-ototku kembali merapatkan barisan dan siap tempur, dengan segala kontraksi yang akan diperintah oleh saraf dari otak sensorikku.
Dengan langkah yang ringan  dan diiringi siulan santai, kuraih Ransel kesayanganku dan aku siap pulang ke Kampung, yah hari ini aku pulang ke Purworejo, soalnya sudah lama tidak ketemu dengan Ibu, sudah kangen rasanya apalagi ingin rasanya mendengar celoteh dari dek Ratih, adikku yang paling bungsu dan cara berbicaranyapun masih cadel.
“Bang keterminal berapa bang?” teriakku pada seorang tukang ojek dipersimpangan jalan yang sedang mangkal.
“Sepuluh ribu saja mas!” Wah mahal banget bang, kuranginlah bang Mahasiswa bang, yah Delapan ribu sajalah kalau gitu mas” dengan muka memelas dan ekspresi yang kuyuh dibuat-buat seperti menderita alias lagi gak banyak uang, aku berkata sambil mengangkat tangan
“Lima Ribu sajalah bang yah, uangnnya nanti tidak cukup untuk sampai kepurworejo bang, tolonglah bang, ngarep bang!”” Situkang ojek pun terlihat mengerti dengan persoalan yang terjadi, sudah paham kali’ kalo Mahasiswa jaman sekarang sudah pada edan cara ngegombalnya. 
“ya sudah mas naik saja. Hatiku terlonjak sambil bertepuk tangan dalam hati, acting dan ekspresi kuyuhku ternyata sangat berguna untuk menarik perasan kasihan situkang ojek tersebut, “jiiyaaahahahah….”aku malah ngakak dalam hati, takut bersuara karena merasa geli dengan keadan seperti ini.
“Terimakasih yah bang sudah didiskon bayarannya, ujarku sambil menyodorkan uang lembaran Lima ribua-an kearah tukang ojek tersebut. “yah sama-sama mas, kita mesti harus saling membantu mas, anggap saja ini pemberian dari Tuhan, Jawab situkang ojek dengan takzim. “Eh,, hati-hati yah mas jangan lupa berdoa kalau sudah naik bus Ucap tukang ojek tersebut dengan senyum penuh makna. akupun menjawabnya dengan senyum dan anggukan.
Aku berlari mencari-cari Bus Purwokerto-Purworejo, sudah menyelinap dari Bus yang satu ke Bus yang lain tapi Bus yang saya cari tidak nongol juga, akhirnya aku berlari dipapan pengumuman melihat jadwal pemberangkatan Bus. “Alamaakk!!!!!” Busnya sudah pergi 15 menit yang lalu , mampus deh!
Dengan tertunduk lesu, aku berjalan menuju kekursi terminal dan kuhempaskan kekecewaanku pada kursi berwana orange tersebut. Ditengah kegelisahanku, tiba-tiba seorang anak berusia sekitar 14 tahun duduk disampingku, wajahnya teduh namun memperlihatkan segurat kesedihan, terlihat mata cekung itu tertunduk lesu dan tak bertenaga seakan sinar kehidupan mulai memudar dari mata tersebut.
Anak itu menoleh kepadaku, aku sedikit gelagapan dan salah tingkah, mata itu nanar dan tajam memolototiku tapi aku berusaha untuk tersenyum dan tidak terganggu dengan tatapan mata elang itu. “mau kemana dik?” ujarku mencairkan suasana dan seolah-olah bisa menyeimbangkan perasaan itu kembali. “Ke purworejo mas, tapi mobilnya sudah berangkat, ucapnya lesu.”Ohh, sama dik aku juga mau ke Purworejo, tapi kebetulan mobilnya sudah pergi.
Terlihat ada sedikit sinar dari keredupan mata itu. kalau begitu kita tunggu Bus yang Pulang Sore saja dik, yang penting kita bisa sampai ke Purworejo. anak itu tersenyum dan membalas kata-kataku dengan anggukan. Setelah perbincangan itu suasana kembali lengan, hingga menitpun berganti menjadi jam demi jam dan saatnya kumandang adzhar yang terdengar dari musholla Terminal tersebut menyentakkanku dari tidur.
“Astaghfirullah!!”  ternyata aku terlelap dengan poisi yang sudah miring 50 derajat dari posisi semula. Kulangkahkan kaki menuju musholla dan kubasuh kepenatan ini dengan air wudhu, terasa segar dan meresap didalam pori-poriku hingga membuat hati ini menjadi lebih tentram dan damai.
Selesai sholat tiba-tiba langitpun terlihat mendung dan suasana menjadi lengan saat hujan turun mengguyur Terminal Purwokerto, seolah-olah air itu ditumpahkan dari langit yang tak ada henti-hentinya
“Byurrrrr!!” Byurrrrr!” Byuurrrr!”
Hujan turun dengan derasnya, hingga Bus Cahaya Alam jurusan Purwokerto-Purworejo baru tiba tepat pukul 5 diterminal. Dengan sedikit berlari aku menuju kearah bus karena ingin menghindari guyuran hujan yang semakin deras. Akhirnya aku sampai didalam Bus sambil mengibas-ngibaskan bajuku yang sedikit basah oleh guyuran hujan.
“Hmmmfttt” aku menarik nafas lega saat duduk dikursi Bus. Penumpang bus sore ternyata tidak terlalu banyak hanya sekitar sepuluh-an orang. Bus pun akhirnya meninggalkan terminal setelah sekitar 30 menit menunggu penumpang Bus sore untuk daerah tujuan Purwokert-Purworejo.
Sepanjang perjalanan suasana dalam bUs sangat sepi, hanya terlihat sesekali ada penumpang yang mengangkat korannya dan ada juga yang tak henti-hentinya menelpon selama perjalanan yang telah dilalui. Namun saya tidak bisa melihat satu wajahpun dari tadi karena penumpang-penumpang tersebut asyik dengan masing-masing alat-alat yang ada didepannya, saya hanya sempat melihat wajah sopir dan kernetnya tersenyum kepadaku.
Terpaan angin malam selama perjalanan membuat bulu kudukku terasa merinding. Hawa dingin angin malam menusuk tubuhku hingga ke persendianku. Sesekali aku mengeliat karena teridur didalam Bus, kulirik arloji di tanganku ternyata sudah 5 jam perjalanan, suasana Bus sangat sepi, sepertinya penumpang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.
Jam setengah 11 malam akhirnya aku turun ditempat pemberhentian Purworejo yang sangat dekat dengan pos ronda anak muda dikampungku.Aku berjalan oleng melewati pos ronda yang masih dipenuhi anak muda yang lagi ngobrol.
Seseorang berteriak memanggilku, “Hei mas Danang!” dari mana mas? akupun refleks berbalik dan melihat ternyata Tio tetangga rumahku, “dari purwokerto Tio, baru sampai ini. “Mas Danang dari Purwokerto naik apa?” kok saya tidak melihat ada Bus tadi berhenti mas?” Tio meneyerbuku dengan banyak pertanyaan, karena memang mereka tidak melihat ada bus berhenti didepan mereka, dan serta merta aku aku bilang, akh,,,,,Tio jangan bercanda deh barusan aku turus dengan bus didepan pos ronda ini, dan busnya sudah pergi Tio. Tio tidak menimpali karena keheranan karena dari tadi dia tidak mendengar suara kendaraan apalagi bus yang lewat tidak ada.
“aku pulang dulu Tio yah, jawabku tiba-tiba mencairkan suasana karena memang sudah capek banget naik bus selama perjalanan. “Oh, iya mas, hati-hati yah mas!” aku membalasnya hanya dengan senyum dan anggukan.
 Akhirnya aku sampai dirumah dengan selamat, ternyata orang-orang dirumah menunggu kedatanganku dari tadi, bahkan si cadel ternyata belum tidur karena menunggu abangya pulang. “Mas janyang, mas janyang, huruf D dia ubah menjadi J sambil menarik-narik ujung bajuku dia memanggil namaku dengan mulut cadelnya, membuatku sangat geli dan seolah-olah kepenatan didalam bus pun telah menghilang seketika karena tingkahnya yang sangat lucu. Aku tahu Ratih menagih janji bonekanya sama aku.
“Ini sayang boneka Barbienya, sambil aku mengeluarkan bungkusan dari dalam tas yang telah aku beli jauh-jauh hari sebelum pulang ke Purworejo, Terlihat Ratih sangat senang dan bahagiah, dia menimang-nimang boneka tersebut, sampai-sampai bonek itu dipegangnya erat sampai dia terlelap dari tidurnya.
Ibu pun mempersiapakan makan malam untukku, dia tahu selama perjalanan, aku pasti belum pernah makan. Aku makan dengan lahap dan sangat banyak. terlihat Ayah masih nongkrong didepan TV, yah kalo bukan Metro TV pasti yang dia nonton TV One, biasalah,  Ayah sangat update and up to date dengan berita-berita baru. Belum selesai makanan dipiringku, Ayah memanggil-manggil ibu kedepan Televisi.
“Bu’e cepat kesini, panggil bapak dengan suara kencang dan diulang beberapa kali. Ini Bu ada berita kecelakaan, Bus jurusan Purwokerto-Purworejo jatuh kejurang tadi maghrib Bu’. Untung si Danang tidak naik bus itu Bu’ yah.”astaghfirullah Ibu’ mengelus dadanya berulang kali. Mendengar namaku disebut-sebut akupun ikut nimbrung diantara Ayah dan Ibu.
“Ada apa sih pak’e kok namaku disebut-sebut?” tanyaku sambil memperhatikan TV. Namun selang beberapa saat mataku seakan tak berkedip, tak peduli dan tak kudengar cerita ayah lagi initial kenapa namaku disebut-sebut. jantungku semakin berdetak cepat, tak tahu ingin bicara apa, kerongkonganku seperti tersumbat dan sakit, seolah-olah kerongkonganku terkena penyaki faringhitis dan laringkhitis secara mendadak. Kulihata wajah-wajah yang ditampilkan dilayar TV tersebut.
Aku sangat mengenal wajah tersebut, yah dia adalah anak yang duduk didekatku tadi sore di terminal, meninggal dalam kecelakan Bus sore jurusan Purwokerto-Purworejo, dan yang paling mebuatku kaget setengah mati adalah, kali ini adalah wajah yang ditampilkan adalah wajah sopir Bus yang saya tumpangi tadi sore dan itu sangat meyakinkanku karena nama Bus yang kecelakaan tersebut adalah Bus Cahaya Alam.
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca, aku baru sadar apa yang terjadi sekarang, untuk ke dua kalinya aku mendapatkan pertolongan Tuhan, dengan terisak aku memeluk Ibuku seperti orang kesurupan membuat Ayah dan ibu menjadi kaget.
“Ada apa tho Le’?” tanya ibuku dengan nada prihatin, iya Le’ ada apa tho?” sambung Ayahku yang sedari tadi ikut panik dengan kelakuanku. Setelah mengusap air mata yang ada diepulupuk mataku dan hatiku sedikit tenang dan jiwaku tidak terganggu lagi, akhirnya kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Ayah dan Ibu.
Nah sekarang gilaran Ayah dan ibuku yang menangis setengah mati, terlihat ayah jatuh dan bersujud, ibu pun mengikutinya, mereka berdua sujud syukur atas mukjizat yang telah diberikan kepadaku,mereka berdua merangkulku, aku tahu betapa mereka sangat menyayangiku, dan tak ingin kehilanganku, dan kejadian ini merupakan mukjizat tuhan untuk yang kedua kalinya untukku.
Kuraba kantong celana panjangku, akupun tak menyangka juga, karena uang yang aku pakai membayar untuk biaya bus tadi masih ada dikantong celanaku dan tidak ada kurangnya sepersenpun. Aku semakin tidak mengerti dengan kejadian aneh ini, Tuhan betul-betul memberiku pelajaran yan g sangat berharga.
Ada satu hal yang tidak pernah aku lupa dalam hidupku setelah bepeergian, ini adalah pesan guruku diwaktu kecil Pak Soleh (Alm), “nak kalau mau bpergian, jangan lupa berdoa dulu, karena doa kita pasti akan selalu diijabah tuhan, Aku tidak pernah lupa dengan pesan guruku itu.
Ini adalah pelajaran buat kita semua, sebelum keluar rumah janganlah kalian lupa membaca doa “Bismillahi Tawakkaltu Alaa Llah wa laa haulaa wa Laa Quwwata illa’ bi Llahil Aliyyul adziem”  artinya  Dengan nama Allah , aku berserah diri kepadaNya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah. kalian harus tahu karena kekuatan doa itu sangat berpengaruh dengan keselamatanmu, bukan berarti kita ingin melawan takdir tapi percayalah kepadaku doa itu sangat menolongmu dan memberikan berkahnya kepadamu janganlah takut untuk berdoa. Karena Tuhan adalah zat yang maha mengabulkan doa hamba_Nya