Gelatik yang Menggelitik

oleh Nur Samawiah pada 12 Desember 2011 pukul 19:28
Illustrasi
            Suasana kelas XII IPA_I masih sepi ketika Dira tiba ditempat itu untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum pelajaran dimulai, apalagi hari itu jadwal praktikum biologi adalah jam pertama, jadi mesti berkemas-kemas untuk persiapan ngelab. Huuuuuuffftttt hheemmmm, Gadis dengan lesung pipi yang sangat manis itu menarik nafas lega. Dia dengan tenang  dan terlihat tanpa tekanan menyusun alat peraga kerangka manusia tepat pukul 7.05 waktu setempat. Akhirnya diapun beranjak keruang tempat penitipan tas dilaboratorium. 
Sambil tertunduk dia mengambil tas yang berada dilaci loker, akan tetapi dia sedikit kaget karena tas yang dicarinya ternyata sudah tidak ada, suasana hatinya yang tadinya adem ayem dengan serta merta berubah menjadi bingung dengan ekspresi lusuh dan muka seperti diremas-remas dia mencari cari tasnya diloker lain namun tak juga didapatinya. Tiba-tiba seseorang dengan badan yang tegap dan atletis berdiri didekatnya, dia sangat mengenal pemilik badan tersebut meskipun dia hanya memandang sepintas dari belakang badan tersebut.
            Segera saja Dira mendekat perlahan-lahan kearah cowok tersebut, terlihat senyum yang sangat bermakna dari bibirnya entahlah apa yang dia fikirkan dan hal gila apalagi yang akan dia kerjakan, AaUuucchhhh!!!!!cowok itu merintih dan dengan gaya reflex dia mebalikkan tubuhnya, ternyata Dira meninju cowok tersebut dengan tenaga super double, membuat cowok tersebut mengadu kesakitan, namun bagaimana ekspresi muka Dira setelah melihat cowok tersebut berbalik kearahnya?
Ternyata tidak kalah pucat bin kaget setengah mati, seakan-akan adrenalinnya sudah terpacu mencapai puncak ratusan kilometer dan jantungnnya dan terus memompa darahnya dengan kekuatan penuh dan tak terkendali seperti detakan jantung itu terdengar bagaikan irama lomba pacuan kuda dipadang tandus. 
Matanya membelalak dan mukanya yang ayu menjadi bersemu merah padam ternyata bukan Adjie, tubuhnya lebih tinggi dan lebih putih dengan kumis tipis diatas bibirnya yang membuatnya beda dengan Adjie.
            “Maaf saya kira kamu temanku,” ujar Dira dengan sedikit tertahan karena malu, kemudian dengan sekonyong-konyong membalikkan badannya dari cowok tersebut dan berlari berbaur dengan teman-temannya yang telah hadir mengisi kelenganan kelas. Bersamaan dengan itu bunyi bel bordering, seluruh siswa masuk kelas kecuali kelad Dira yang akan peraktikum dilaboratorium. “Tunggu!” Cowok itu mengejar Dira kemudian memberikan tas milik Dira yang sedari tadi dicarinya. Cowok itu mengulurkan tangannya sambil berjalan beriringan dengan langkah yang sedikit lambat dibandingkan teman-temannya yang lain.
            “Nama saya Edho” ucapnya lirih.
            “Kalau kamu siapa sih namanya? Sambungnya dengan pertanyaan yang diiringi dengan .sedikit sunggingan.
            Dengan muka yang seperti dilapisi tembok 5 meter karena menahan malu, Dira menyambut tangan tersebut. Bagaimana Dira tidak merasa bersalah, tangannya sendiri masih terasa sakit pasca kejadian tadi, dan tak ayal lagi tentu cowok itu benar-benar kesakitan sampai mengadu segala dengan cara yang halus sekalipun.
“Dira Utami.”
            “Oh, nama yang manis, sama seperti orangnya!” Ujarnya dengan sedikit gombalan yang menggelitik hati Dira.
            Tidak lama berselang perkenalan mereka Pak Syahrul  guru Biologi memasuki laboratorium, pelajaranpun diumulai. Diam-diam Dira sepertinya sibuk dengan fikrannya sendiri, dia mengingat-ngingat wajah dan tawa Edho, mengingatkannya dengan Arfan. Senyum simpul dan tawanya yang sangat khas begitu menyejukkan hatinya.
            Arfan adalah First Love, dia adalah cinta pertama Dira, kakak kelasnya yang sudah tamat setahun yang lalu dan saat ini telah menjadi mahasiswa disalah satu perguruan tinggi ternama di Kota ini, wajahnya ganteng dan dia cukup dikenal di lingkungan sekolah sebgai ketua Osis.
            Namun sayangnya Arfan adalah tipe cowok yang egois, dan tinggi hati, Dira dicampakkannya begitu saja, padahal dia sangat mencintai Arfan hingga begitu banyak perlakuan yang tak mengenakan yang diberikan Arfan kepada Dira. Begitu banyak perangai Arfan yang telah menusuk hati Dira, Arfan bercumbu mesra dengan cewek lain didepan Dira,  seakan Dira hanyalah boneka mainan buatnya yang baginya tak memiliki perasaan sakit.
            Hati Dira remuk, perih seperti diiris sembilu karena diperlaukan sewenang-wenang oleh Arfan, padahal dia rela mengorbankan apa saja untuk kepentingan Arfan yang sangat dicintainya. Semua kejadian yang dialaminya tidak akan pernah hilang dalam ingatannya karena telah tergores didalam hati dan fikirannya dan begitu banyak yang pahit sekalipun masih saja dia kenang karena perasaanya yang telah diluluh lantakkan.
            Hingga suatu ketika, saat bubaran sekolah Dira dengan setia menunggu Arfan dengan maksud pulang berbarengan dengannya. Cukup lama Dira menunggu dan tidak seperti biasanya Arfan muncul bergandengan tawan dengan cewek lain, penuh kemesraan  dan dengan entengnya Arfan memberi alasan tanpa perasan bersalah.
            “Maaf Dir, kamu naik bentor saja, saya mau antar Selvi kerumah tantenya, ada acara ulang tahun sepupunya,” Ucap Arfan dengan lancar tanpa ada beban dengan kata-katanya. Kontan saja muka ayu Dira berubah drastis terlihat merah padam dengan diselimuti kekecewaan dan kemarahan yang tak tereda, dia tidak habis fikir dengan cara Arfan memperlakukan dirinya.
            Peristiwa demi peristiwa terus berlangsung mengakibatkan Dira sedikit goyah dan terganggu konsentrasinya mengikuti pelajaran, hingga hal tersebut sempat tersebar di sentero sekolah, pasalnya Arfan terkenal dikalangan siswa-siwswi dan guru-guru. Hubungan Dira dan Arfan bukan Rahasiah lagi, awalnya mereka pasangan yang serasi, sama-sama cerdas dan seia-sekata dalam langkah dan penampilan.
Namun semuanya sekan ditelan oleh waktu karena Arfan begitu cepat berubah dan membuatnya seperti tak punya arti lagi.
Namun Dira masih menyimpan secercah harapan, barangkali Arfan masih ingin kembali padanya. Dia mencoba berjuang diatas jeritan-jeitan sanubarinya untuk mengingatkan Arfan pada kata-katanya yang pernah diucapkan sebelumnya,
     “Dir! kamulah satu-satunya wanita yang ada dihatiku, aku berharap kamu akan mencintaiku seutuhnya, Dirapun terbang melanglang buana betapa bahagiahnya perasaannya saat mendengar kata-kata orang yang sangat dicintainya.
namun semua hanyalah kata-kata sambel yang gak berbekas Arfan kemudian mencampakkannya lagi kejurang yang paling dalam setelah mendapatkan Selvi. Dira tidak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali hanya pasrah dengan keadaan, dia menyadari dan terus menyesali kelemahannya. Arfan memang laki-laki Playboy yang tidak bisa hidup dengan satu cinta, namun Dira terlalu lugu dan terus mempertahankan perasaannya pada Arfan yang telah mengkhianatinya.
Namun dalam pergolakan dan pergumulan batinnya, timbul seberkas cahaya dalam dirinya untuk segera menghapus galau itu didalam hatinya, dia harus tabah dan harus berpendirian kuat. Namun satu yang sangat disyukurinya karena pantang bagi Dira untuk menjual harga dirinya begitu murah dihadapan Arfan dibandingkan dengan selvi yang melewati batas asusila dan adat ketimuran ketika bergaul dengan arfan.
Dua tahun telah terlewatkan, Dira saat ini telah duduk dikelas III SMU, sementara Arfan telah tamat dan kulyah di fakultas sastra.
Seperti biasanya Dira mengisi waktu luangnya disore hari dengan membaca serta mengulangi materi-materi pelajaran yang diberikan diseolah. Karena letih menggerogotinya kahirnya disimpannya buku-buku pelajarn tersebut dan kemudian dipalingkannya mukanya kearah taman bunga dihalaman rumahnya. Dia kembali mengingat Edho.
Edho adalah lelaki yang menyenangkan, jujur, berwawasan luas, dan lucu. Dia memang tidak sekya Arfan tetapi body dan kegantengan serta kepintarannya dimata Dira melebihi Arfan.. tatapan Dira belum berhenti pada bunga anggrek itu, sambil menghayalkan orang yang memberinya bunga anggrek kesayanggannya.
Tiba-tiba terlihat sosok yang sangat dikenal Dira.
“Dira…”
Suara berat itu menyentakkannya, saat mebalikkan badan Wajah Arfan terekam dimatanya, selintas terlihat keredupan dimata Arfan.
“saya tidak cocok dengan Selvi, Dir. Dia suka ngatur,” ujar Arfan pelan sambil duduk.
Dira tak berkomentar, dia hanya bungkam
“kami sudah memilih jalan sendiri-sendiri.”
“hmm…oh…yaaa!” Dira menggumam tanpa makna, mereka semua tidak sebaik kamu Dir, maafkan saya untuk yang terakhir kalinya, aku takkan berpaling darimu!”
“Maaf?? Untuk apa kamu menyesal?”
“Untuk semua kesalahan yang pernah saya perbuat, Arfan seakan memaksa Dira untuk menerima permintaan maafnya
Meskipun Dira melihat ada gumpalan sesal, namun dia tak ingin lagi bersama Arfan karena tadi pagi Edho datang di dekatnya dan menawarkan cintanya.
Namun karena ajaran mama dan papanya yang mebuatnya tidak pernah membenci Arfan meskipun Arfan membuatnya seperti tak ada gunanya, dan begitu saja mencampakkannya, dan berpaling dengan merpati lain, Semua telah berlalu dan bagi Dira tak ada gunanya untuk dikenang lagi.
Arfan beranjak pergi, langkahnya gontai, badannya linglung. Kini Merpati itu menggelitik dirinya sendiri dan sayapnya kini telah patah. Biarlah merpati itu belajar dari pengalamannya bahwa cinta itu tidak untuk dipermainkan. Semoga luka bisa membuatnya lebih bijak, belajar dari pengalamannya, menyikapi hidup dan relung-relung kehidupan yang masih panjang, sebatas usia manusia. Semoga Dira dan Edho mencapai cita-citanya.

Comments

comments