Aku Ingin Hidup dengan Caraku Sendiri

Karya Nurmustaqimah 
Illustrasi
“Dibandingkan bermimpi punya rumah dan mobil mewah, aku lebih suka bermimpi punya sebuah rumah sederhana dengan sebuah taman dan sebuah pohon mangga yang berdiri tegak di sudut halaman yang buahnya bisa kupetik jika musimnya tiba, hidup bahagia dengan seseorang yang kucintai dan mencintaiku, dan menghabiskan sisa hidup dengan tawa yang tidak pernah terenggut lagi oleh obsesi dari siapa pun itu”
            Aku Silvi, seorang anak yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis, sebelum cita-cita itu dibabat habis oleh orang tuaku. Aku suka sekali menulis tapi orang tuaku bilang aku lebih baik jadi seorang Pegawai Negeri Sipil dengan gaji yang dijamin oleh pemerintah, tidak perlu takut sengsara karena sampai pensiun pun hidupku dijamin pemerintah. Ayahku seorang guru, begitu pula dengan ibuku, makanya aku juga dituntut menjadi seperti mereka.
           Kakakku seorang dosen di salah satu Universitas swasta dan sekarang sedang mengambil S2 nya di salah satu Universitas ternama di kotaku, namanya Weni, aku didorong untuk jadi sepertinya, kuliah baik-baik dan dapat pekerjaan yang sangat baik dan diagung-agungkan di masyarakat, dan tentu saja yang penghasilannya tidak diragukan lagi. Itu tidak salah, aku tau tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya ke hal yang buruk, tapi sisi lain diriku seperti selalu mendorongku melawan mereka dan berlari mengejar impian yang tidak ada apa-apanya bagi mereka dan dianggap tidak memenuhi kriteria.
             Sebenarnya aku marah pada dunia, kenapa profesi selalu diukur dengan penghasilannya dan keagungannya di tengah-tengah masyarakat,, sialnya…orang tua dan kakakku adalah salah satu dari orang-orang yang berpandangan demikian. Kakakku selalu bilang, suatu saat nanti dia akan jadi dosen dengan jabatan yang berpengaruh di Universitas ternama itu, dia akan punya rumah besar dan mobil mewah. Ia lalu berusaha sekuat tenaganya untuk medapatkan itu semua, belajar mati-matian dan menjadi kebanggaan orang tuaku. Aku jadi benci dengan kakakku, sebab karena dia…aku jadi sering dianggap tidak ada apa-apanya, kakakku selalu dianggap sebagai anak yang patut dicontoh, penurut dan pintar.
            Karena kakakku lulus di fakultas kedokteran di SNMPTN, aku jadi didorong sekeras mungkin untuk mengikuti jejaknya. Aku benci semua itu sebab aku merasa punya cara sendiri untuk mencari apa yang benar-benar mau aku dapatkan, sampai-sampai obsesi orang tuaku untuk menjadikanku seperti kakakku membuat mereka rela bersedia membayar delapan puluh juta rupiah di jalur non subsidi fakultas kedokteran, tapi aku bersyukur Tuhan tidak kasi jalan waktu itu, aku sama sekali tidak ingin menjadi orang yang hidup karena sebuah obsesi dari orang-orang yang setiap hari seperti mencekik leherku, mengikat tangan dan kakiku, dan membuatku selalu ingin berontak.
           Aku selalu mencoba bilang ini pada ibu, aku ingin jadi seorang jurnalis, kuliah serius di jurusan jurnalistik dan suatu saat bisa hidup bahagia karena pekerjaan yang bisa kunikmati dengan tetes peluhku, tersenyum dihari-hariku walaupun sulit, walaupun tidak banyak orang yang menginginkannya dibandingkan dengan menjadi seorang dokter, dosen, ataupun guru, tapi aku menginginkannya sejak dulu…tapi ibu selalu menentangngnya.
“Mau jadi apa kamu kalau kuliah di jurusan itu, sekarang itu kalau mau cepat terangkat jadi pegawai negeri sipil, kamu harus kuliah di jurusan kesehatan atau pendidikan!”
 Itulah kalimat yang paling aku benci, pemikiran yang membatasi ruang gerakku. Aku ingin keluar dan melihat dunia luar yang punya banyak sisi lain yang belum kuketahui sebelumnya, dengan menjadi seorang jurnalis, wartawan, reporter, dan penulis adalah cara-cara yang bisa kutempuh untuk mendapatkan itu. Lagi pula, aku suka menulis sejak aku menginjak jenjang SMP, paling tidak menulis puisi dan diary. Hanya saja, ayahku, ibuku, tidak pernah mau melihat itu semua, mereka selalu berpikiran linear, lurus ke depan dan tidak bersedia menengok ke arah yang sebenarnya memiliki banyak warna yang lebih indah.
           Aku iri, aku cemburu melihat orang-orang yang berhasil meraih cita-cita yang memang mereka impi-impikan, setiap kali melewati fakultas Komunikasi yang di dalamnya banyak mahasiswa jurnalistik,  sementara aku hidup dalam rantai obsesi orang tuaku, kuliah di jurusan pendidikan biologi dan nantinya menjadi seorang pegawai negeri sipil yang terikat dengan pemerintah, ada rasa sakit yang seperti mederaku, hatiku berontak setiap hari.
Sampai hari ini aku masih ada dibalik jeruji besi yang sangat sulit kutembus, aku ingin memotong besi-besi yang berjejer rapi di hadapanku tapi aku sama sekali tidak punya daya, bukan tidak ada upaya, aku hanya tidak ingin keluar jalur yang telah dibuat rapi oleh orang tuaku dan menjadi anak yang pembangkang.
           Sekarang aku sudah semester 3, semester yang lalu nilaku hancur, aku tidak pernah ikut praktikum anatomi tumbuhan dan struktur hewan, hasilnya Error. Aku yakin jika orang tuaku tau, ia akan marah padaku sebab aku tidak serius kuliah. Sebenarnya itu adalah salah satu caraku untuk menunjukkan pemberontakanku, bahwa aku lelah..aku benci dengan semuanya..meskipun sadar caraku salah. Hari ini aku berjanji tidak akan mengungkitnya lagi, mungkin lebih baik jika kupendam sendiri, menjalani semuanya sesuai jalur dan hidup normal seperti kebanyakan orang lakukan.
I’m a dreamer, but I can’t get my dream…
          Oh ya…hari ini aku tes golongan darah, golongan darahku “AB”, aku tidak mengerti kenapa bisa demikian, Ayahku bergolongan darah “O” dan ibuku bergolongan darah “A”, jika disilangkan dan menghitung persentase kemungkinan anak yang dihasilkan, maka aku dapat kemungkinan 0 %, entahlah, kakakku bergolongan darah A.
IªI°                 x               I°I°
IªI°, IªI°, I°I°, I°I°
50 % A dan 50 % O,  ≠ AB (tidak bisa hasilkan anak dengan golongan darah AB)
          Aku berbeda…., aku memang selalu berbeda dari yang lainnya…, orang bilang kakak dan adikku berkulit hitam sejak lahir, sementara aku beda, aku berkulit putih sejak aku masih bayi. Aku tidak ingin mengira-ngira dan membuatku semakin terpuruk dengan sugesti negative dari diriku sendiri, mungkin saja tes golongan darah dari ibu atau ayahku salah kan….maka kuputuskan untuk diam, aku ingin hidup dengan normal-normal saja. Bukankah orang yang bergolongan darah AB memang unik…,,hanya sedikit orang yang memilikinya dibandingkan dengan A, B, dan O…,, jadi hari ini aku akan buat statement yang akan jadi kebanggaanku hari ini, besok, besok lusa,  dan seterusnya bahwa “AKU SPECIAL”

Comments

comments